Diskusi bersama: Refleksi pelatihan sertifikasi mediator

24 Juli 2017

Diskusi bersama ini berlangsung pada hari Minggu, 23 Juli 2017 di Hotel Ayaka Suites, Jakarta. Acara ini dibuka oleh sambutan dari Direktur Program CRU Navitri Putri Guillaume. Dalam sambutannya, Navitri menyampaikan apresiasi tinggi khususnya pada antusiasme dan kesungguhan peserta dalam memenuhi rangkaian jadwal pelatihan sertifikasi mediator.

Tercatat dari dua puluh peserta pelatihan, 19 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dari Aceh hingga Papua berhasil menempuh ujian. Para peserta ini mewakili lembaga pemberdayaan masyarakat atau berperan sebagai pemimpin adat di komunitas mereka.

Salah satu praktek terbaik dalam proses mediasi adalah memastikan keterlibatan semua pihak yang memiliki kepentingan akan penyelesaian konflik, termasuk kaum perempuan. Menuju hal tersebut, penting bagi mediator untuk mengembangkan proses mediasi sumber daya alam dan lahan untuk lebih berpihak kepada perempuan diantaranya dengan memperkaya materi pelatihan sertifikasi mediator yang telah merespon isu-isu kesetaraan gender.

“Melalui diskusi bersama ini, kita mengharapkan mendapatkan feed back yang dapat memperbaiki kurikulum pelatihan mediasi agar semakin responsif terhadap perspektif gender.” ungkap Navitri.

Umpan balik inilah yang digali selama diskusi berlangsung. Fasilitator diskusi Rival Ahmad mengajak para peserta untuk bercerita, berbagi pengalaman, melakukan refleksi akan pengalaman bermediasi.

Tidak hanya pengalaman setelah mengikuti pelatihan mediasi, namun Rival berupaya lebih dalam dengan memancing pengalaman personal para peserta tentang bermediasi sebelum mengikuti pelatihan sertifikasi.

Pengalaman personal menjadi salah satu titik perhatian karena hampir seluruh peserta mempunyai pengalaman baik langsung maupun tidak langsung dengan proses mediasi. Refleksi pengalaman personal berpadu dengan refleksi pengalaman kolektif setelah melakukan pelatihan menjadi sumber pengetahuan baru tentang proses bermediasi yang baik.

Perhatian yang besar terhadap identifikasi kebutuhan, keterbatasan dan kesempatan akan proses mediasi yang sensitif pada gender diberikan selama diskusi berlangsung. Hampir seluruh peserta berpendapat baik laki-laki maupun perempuan dapat menjadi mediator yang baik. Namun hampir semuanya sepakat bahwa setiap laki-laki dan perempuan menggunakan metode yang berbeda dalam bermediasi. Misalnya bagi perempuan adalah sangat penting untuk diberikan pendekatan khusus untuk menggali cerita atau afirmasi sebaliknya untuk laki-laki, kebutuhan untuk didengarkan lebih condong.

Tingkat kepercayaan diri dan kapasitas juga mempengaruhi mediator, khususnya mediator perempuan, walaupun tidak semua peserta sepakat.

“Saya sebagai perempuan, bertindak sebagai kepala suku, berani dan percaya saya punya kemampuan untuk bermediasi, tapi terkadang masih banyak yang tidak percaya tapi juga tidak mau ikut menyelesaikan” ungkap Ida, salah satu peserta pelatihan.

Sementara peserta dari kabupaten Aceh Tamiang mengungkapkan keterwakilan perempuan dalam forum belum tentu memberikan kesempatan bagi perempuan untuk berbicara dan terlibat dalam proses mediasi. Pendampingan bagi perempuan yang terlibat dalam proses mediasi harus diberikan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan menyediakan kesempatan berbicara bagi mediator perempuan.

Diskusi sehari ini ditutup dengan perumusan rencana tindak lanjut yang bertujuan untuk memperkuat jaringan mediator perempuan Indonesia melalui berjejaring dan peningkatan kapasitas seperti pelatihan lanjutan dan program magang. Keseluruhan umpan dari peserta dijadikan masukan bagi penyusunan kurikulum pelatihan sertifikasi mediator yang lebih sensitif pada gender yang akhirnya dapat menjadi pembelajaran praktek terbaik bermediasi.

———–

Keterangan foto: Peserta diskusi refleksi pelatihan sertifikasi mediator bersama Direktur Program CRU, Navitri Putri dan fasilitator diskusi Rival Ahmad berfoto bersama setelah acara usai. (Kredit foto: Rinawati Eko/CRU)